Paragraf

1. PENGERTIAN PARAGRAF

Paragraf merupakan inti penuangan buah pikiran dalam sebuah karangan. Dalam paragraf terkandung satu unit buah pikiran yang didukung oleh semua kalimat dalam paragraf tersebut, mulai dari kalimat pengenal, kalimat utama atau topik, kalimat-kalimat penjelas sampai pada kalimat penutup. Himpunan kalimat ini saling bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan (Akhadiah dkk, 1991:144).

Keraf (1977:51) menyebut paragraf dengan istilah alinea. Alinea adalah kesatuan pikiran yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat. Ia merupakan himpunan dari kalimat-kalimat yang bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah ide.

Paragraf  dapat juga dikatakan karangan yang paling pendek (singkat). Dengan adanya paragraf, kita dapat membedakan di mana suatu gagasan mulai dan berakhir. Kita akan kepayahan membaca sebuah tulisan atau buku, kalau tidak ada paragraf, karena kita seolah-olah dicambuk untuk membaca terus-menerus sampai selesai. Kita pun susah mengonsentrasikan pikiran dari gagasan ke gagasan lain. Dengan adanya paragraf kita dapat berhenti sebentar, sehingga kita dapat memusatkan pikiran tentang gagasan yang terkandung dalam paragraf itu.

2. KEGUNAAN PARAGRAF

Kegunaan paragraf yaitu:

1) untuk menandai pembukaan topik baru, atau pengembangan lebih  lanjut topik sebelumnya.

2) untuk menambah hal-hal yang penting atau untuk memerinci apa yang sudah diutarakan dalam paragraf sebelumnya atau paragraf yang terdahulu.

3. MACAM-MACAM PARAGRAF

Berdasarkan tujuannya, paragraf dapat dibedakan menjadi: paragraf pembuka, penghubung, dan penutup (Akhadiah dkk, 1993: 171)

1) Paragraf Pembuka

Paragraf yang berperan sebagai pengantar untuk sampai kepada masalah yang akan diuraikan. Sebab itu paragraf pembuka harus dapat menarik minat dan perhatian pembaca, serta sanggup menyiapkan pikiran pembaca kepada masalah yang akan diuraikan. Paragraf  pembuka ini jangan terlalu panjang supaya tidak membosankan.

Paragraf pembuka (awal) mempunyai dua kegunaan, yaitu selain supaya dapat menarik perhatian pembaca, juga berfungsi menjelaskan tentang tujuan dari penulisan itu.

2) Paragraf Penghubung

Masalah yang akan diuraikan terdapat dalam paragraf penghubung. Paragraf penghubung berisi inti persoalan yang akan dikemukakan. Oleh karena itu, secara kuantitatif paragraf inilah yang paling panjang, dan antara paragraf dengan paragraf harus saling berhubungan secara logis.

3) Paragraf Penutup

Paragraf penutup mengakhiri sebuah karangan. Biasanya  paragraf  ini berisi kesimpulan dari paragraf penghubung. Dapat juga paragraf penutup berisi penegasan kembali mengenai hal-hal yang dianggap penting dalam paragraf penghubung. Paragraf penutup yang berfungsi mengakhiri sebuah karangan tidak boleh terlalu panjang. Namun, tidak berarti, paragraf ini dapat tiba-tiba diputuskan begitu saja. Jadi, seorang penulis harus dapat menjaga perbandingan antara paragraf pembuka, penghubung, dan penutup.

4. SYARAT-SYARAT PEMBENTUKAN PARAGRAF

Dalam pengembangan paragraf, kita harus menyajikan dan mengorganisasikan gagasan menjadi suatu paragraf yang memenuhi persyaratan. Persyaratan itu ialah kesatuan, kepaduan, dan kelengkapan (Akhadiah dkk, 1991: 148)

1) Kesatuan

Tiap paragraf hanya mengandung satu gagasan pokok atau satu topik. Fungsi paragraf ialah mengembangkan topik tersebut. Oleh sebab itu, dalam pengembangannya tidak boleh terdapat unsur-unsur yang sama sekali tidak berhubungan dengan topik atau gagasan pokok tersebut. Penyimpangan akan menyulitkan pembaca. Jadi, satu paragraf hanya boleh mengandung satu gagasan pokok atau topik. Semua kalimat dalam paragraf harus membicarakan gagasan pokok tersebut.

Paragraf dianggap mempunyai kesatuan, jika kalimat -kalimat dalam paragraf itu tidak terlepas dari topiknya atau selalu relevan denag topik. Semua kalimat terfokus pada topik dan mencegah masuknya hal-hal yang tidak relevan.

Penulis yang masih dalam taraf belajar (tahap pemula) sering mendapat kesulitan dalam memelihara kesatuan ini. Perhatikan contoh berikut ini:

Kebutuhan hidup sehari-hari setiap keluarga dalam masyarakat tidaklah sama. hal ini sangat tergantung dari besarnya penghasilan setiap keluarga. Keluarga yang berpenghasilan sangat rendah, mungkin kebutuhan pokok pun sulit terpenuhi. Lain halnya dengan keluarga yang berpenghasilan tinggi. Mereka dapat menyumbangkan sebagian penghasilannya untuk pembangunan tempat-tempat beribadah, atau kegiatan sosial lainnya. Tempat-tempat ibadah memang perlu bagi masyarakat. Pada umumnya empat-tempat ibadah ini dibangun secara bergotong royong dan sangat mengandalkan sumbangan para dermawan. Perbedaan penghasilan yang besar dalam masyarakat telah menimbulkan jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.

Terlepas dari struktur kalimat yang digunakan, paragraf di atas tidak didukung oleh kesatuan. Ada kalimat yang sangat jauh hubungannya dengan gagasan utama. Gagasan pokok tentang penghasilan suatu keluarga, dalam pengembangannya kita jumpai lagi gagasan gagasan pokok yang lain yaitu tempat beribadah. Hubungan antara satu kalimat dengan kalimat lain tidak merupakan suatu kesatuan yang bulat untuk menunjang gagasan utama.

Penyimpangan ini mungkin terjadi karena beberapa hal, misalnya karena penulis melamun, atau bosan dengan topik yang sedang ditangani, atau keinginan untuk mempengaruhi pembaca dengan memperkenalkan hal-hal yang baru, tetapi tidak relevan dengan isi. Hal ini tidak mudah membetulkannya. Yang perlu diingat adalah tujuan dari paragraf yang telah diperkenalkan dalam kalimat topik dan tujuan inilah yang menjadi pedoman dalam pengembangannya.            

2) Kepaduan

Syarat kedua yang harus dipenuhi oleh sebuah paragraf ialah koherensi atau kepaduan. Satu paragraf bukanlah merupakan kumpulan atau tumpukan kalimat yang masing-masing berdiri sendiri atau terlepas, tetapi dibangun oleh kalimat-kalimat yang mempunyai hubungan timbal balik.

Pembaca dapat dengan mudah memahami dan mengikuti jalan pikiran penulis tanpa hambatan karena adanya loncatan pikiran yang membingungkan. Urutan pikiran yang teratur, akan memperlihatkan adanya kepaduan. Jadi, kepaduan atau koherensi dititikberatkan pada hubungan antara kalimat dengan kalimat.

Kepaduan dalam sebuah paragraf dibangun dengan memperhatikan:

(1)  Unsur kebahasaan yang digambarkan dengan

a.      repetisi atau pengulangan kata kunci

Contoh pemakaian repetisi:

Dalam mengajarkan sesuatu, langkah pertama yang perlu kita lakukan ialah menentukan tujuan mengajarkan sesuatu itu. Tanpa adanya tujuan yang sudah ditetapkan, materi yang kita berikan, metode yang kita gunakan, dan evaluasi yang kita susun, tidak akan banyak memberikan manfaat bagi anak didik dalam menerapkan hasil proses belajar-mengajar. Dengan mengetahui tujuan pengajaran, kita dapat menentukan materi yang akan kita ajarkan, metode yang akan kita gunakan, serta bentuk evaluasinya, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

Dalam paragraf di atas, kepaduan didapat dengan mengulang kata kunci yaitu kata yang dianggap penting dalam sebuah paragraf. Kata kunci yang mula-mula timbul pada awal paragraf, kemudian diulang-ulang dalam kalimat berikutnya. Pengulangan ini berfungsi memelihara kepaduan semua kalimat.

b.     kata ganti

Contoh pemakaian kata ganti.

Dengan penuh kepuasan Pak Marto memandangi hamparan padi yang tumbuh dengan subur. Jerih payahya tidak sia-sia. Beberapa bulan lagi ia akan memetik hasilnya. Sudah terbayang di matanya orang sibuk memotong, memanggul padi berkarung-karung, dan menimbunnya di halaman rumah. Tentu anaknya dan calon menantunya Acep akan ikut bergembira. Hasil panen yang berlimpah itu tentu dapat mengantarkan mereka ke mahligai  perkawinan.

Kepaduan paragraf di atas dibina dengan menggunaan

kata ganti. Kata yang mengacu kepada manusia, benda,

biasanya untuk menghindari kebosanan, diganti dengan kata

ganti. Pemakaian kata ganti dalam paragraf di atas berfungsi

menjaga kepaduan antara kalimat-kalimat yang membina

paragraph.

c. kata transisi atau ungkapan penghubung

Untuk menyatakan kepaduan dari sebuah paragraf, ada bentuk lain yang sering digunakan yaitu penggunaan kata atau frase (kelompok kata) dalam bermacam-macam hubungan.

Contoh pemakaian kata transisi.

Perkuliahan bahasa Indonesia sering kali sangat membosankan, sehingga tidak mendapat perhatian sama sekali dari mahasiswa. Hal ini disebabkan oleh bahan kuliah yang disajikan dosen sebenarnya merupakan masalah yang sudah diketahui oleh mahasiswa, atau merupakan masalah yang tidak diperlukan mahasiswa. Di samping itu, mahasiswa yang sudah mempelajari bahasa Indonesia sejak mereka duduk di bangku Sekolah Dasar atau sekurang-kurangnya sudah mempelajari bahasa Indonesia selama sepuluh tahun, merasa sudah mampu menggunakan bahasa Indonesia. Akibatnya, memilih atau menentukan bahan kuliah yang akan diberikan kepada mahasiswa, merupakan kesulitan tersendiri bagi para pengajar bahasa Indonesia.

(2)  Pemerincian dan urutan isi paragraf

Bagaimana cara mengembangkan pikiran utama menjadi sebuah paragraf dan bagaimana hubungan antara pikiran utama dengan pikiran-pikiran penjelas, dilihat dari urutan perinciannya. Perincian ini dapat diurut secara kronologis (menurut urutan waktu), secara logis (sebab-akibat,akibat-sebab, khusus-umum, umum-khusus), menurut urutan ruang, menurut proses, dan dapat juga dari sudut pandangan yang satu ke sudut pandangan yang lain.

3) Kelengkapan

Suatu paragraf dikatakan lengkap, jika berisi kalimat-kalimat penjelas yang cukup untuk menunjang kejelasan kalimat topik atau kalimat utama. Sebaliknya suatu paragraf dikatakan tidak lengkap, jika tidak dikembangkan atau hanya diperluas dengan pengulangan-pengulangan.

Perhatikan contoh berikut:

Suku Dayak tidak termasuk suku yang suka bertengkar. Mereka tidak suka berselisih atau bersengketa.

Paragraf di atas merupakan paragraf  merupakan contoh paragraf yang hanya diperluas dengan pengulangan. Kita lihat ungkapan bertengkar pada kalimat pertama, hanya diulangi dengan sinonimnya yaitu kata berselisih dan bersengketa.

5. LETAK  KALIMAT UTAMA

Sebuah paragraf dibangun oleh beberapa kalimat yang saling berhubungan dan hanya mengandung satu pikiran utama dan dijelaskan oleh beberapa pikiran penjelas. Pikiran utama dituangkan dalam kalimat utama dan pikiran-pikiran penjelas atau perincian dituang ke dalam kalimat-kalimat penjelas.

Penempatan kalimat utama dalam pengembangan sebuah paragraf bermacam-macam. Ada paragraf yang dimulai dengan peristiwa-peristiwa atau perincian-perincian, kemudian ditutup denan kesimpulan yang kemudian baru perincian-perincian untuk menjelaskan pikiran utama.

Ada empat cara untuk meletakkan kalimat utama, yaitu:

1)     Pada awal paragraf        

2)     Pada akhir paragraf

3)     Pada awal dan akhir paragraf

4)     Tanpa kalimat Utama

1)      Pada Awal Paragraf

Paragraf dimulai dengan mengemukakan persoalan pokok atau kalimat utama. Kemudian diikuti oleh kalimat-kalimat penjelas yang berfungsi menjelaskan pikiran utama. Paragraf ini biasanya bersifat deduktif, dari yang umum kepada yang khusus.

Kosa kata memegang peranan dan merupakan unsur yang paling mendasar dalam kemampuan berbahasa, khususnya dalam karang-mengarang. Jumlah kosa kata yang dimiliki seseorang akan menjadi petunjuk tentang pengetahuan seseorang. Di samping itu jumlah kosa kata yang dikuasai seseorang, juga akan menjadi indikator bahwa orang itu mengatahui sekian banyak konsep. Semakin banyak data yang dikuasai, semakin banyak pula pengetahuannya. Dengan demikian, seorang penulis akan mudah memilih kata-kata yang tepat atau cocok untuk mengungkapkan gagasan yang ada dalam pikirannya.

2)     Pada Akhir Paragraf

Paragraf dimulai dengan kalimat-kalimat penjelas. Kemudian diikuti oleh kalimat utama. Paragraf ini biasanya bersifat induktif, dari yang khusus kepada yang umum..

Pada waktu anak didik memasuki dunia pendidikan, pengajaran bahasa Indonesia secara metodologis dan sistematis bukanlah merupakan halangan baginya untuk memperluas dan memantapkan bahasa daerahnya. Setelah anak didik meninggalkan kelas, ia kembali mempergunakan bahasa daerah, baik dalam pergaulan dengan teman-temannya atau dengan orang tuanya. Ia merasa lebih intim dengan bahasa daerah. Jam sekolah hanya berlangsung beberapa jam. Baik waktu istirahat ataupun di antara jam-jam pelajaran, unsur-unsur bahasa daerah tetap menerobos. Ditambah lagi jika sekolah itu bersifat homogen dan gurunya pun penutur asli bahasa daerah itu. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan pengetahuan si anak terhadap bahasa daerahnya akan melaju terus dengan cepat

(3) Pada Awal dan Akhir Paragraf

Peningkatan taraf pendidikan para petani, dirasakan sama pentingya dengan usaha peningkatan taraf hidup mereka. petani yang berpendidikan cukup, dapat mengubah sistem pertanian tradisional misalnya bercock tanam hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan, menjadi petani modern yang produktif. Petani yang berpendidikan cukup, mampu menunjang pembangunan secara positif. Mereka dapat memberikan umpan balik yang setimpal terhadap gagasan-gagasan yang dilontarkan perencana pembangunan, baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah. Itulah sebabnya, peningkatan taraf pendidikan.

(4)  Tanpa Kalimat Utama

Paragraf ini tidak mempunyai kalimat utama. Berarti pikiran utama terbesar di seluruh kalimat yang membangun paragraf tersebut. Bentuk ini biasanya digunakan dalam karangan yang benbentuk narasi (yang berbentuk cerita) atau deskripsi (yang berbentuk lukisan). Pikiran utama didukung oleh semua kalimat.

Keributan ayam berkeruyuk bersahut-sahutan mengendur. Kian lama kian berkurang. Akhirnya tinggal satu-satu saja terdengar kokok yang nyaring. Dan ayam-ayam itu sudah mulai turun dari kandangnya, pergi ke ladang dan pelataran. Dengung dan ruang lalu lintas di jalan raya kembali menggila seperti kemarin. Raung klakson mobil dan desis kereta api bergema-gema menerobos ke relung-relung rumah di sepanjang. Sayup-sayup terdengar dentang lonceng gereja menyongsong hari baru dan menyatakan selamat tinggal pada hari kemarin.

Paragraf di atas dibangun oleh beberapa kalimat yang semuanya menjelaskan tentang suasana di pagi hari. Jadi, pikiran utama tersebar di dalam beberapa kalimat yang membangun paragraf tersebut.

  1. MENGEMBANGKAN PARAGRAF

Pikiran utama dari sebuah paragraf hanya akan jelas kalau diperinci dengan pikiran-pikiran penjelas. Tiap pikiran penjelas dapat dituang ke dalam satu kalimat penjelas atau lebih. Malahan ada juga kemungkinan, dua pikiran penjelas dituang ke dalam sebuah kalimat penjelas. Tetapi sebaiknya sebuah pikiran penjelas dituang ke dalam sebuah kalimat penjelas. Dalam sebuah paragraf terdapat satu pikiran utama dan beberapa pikiran penjelas. Inilah yang dinamakan kerangka paragraf.

Kerangka paragraf : pikiran utama : keindahan alam yang mengecewakan.

Pikiran penjelas :     §    manusia telah mengubah  segala-galanya.

§   hutan, sawah, dan ladang tergusur.

§   Pohon sudah tidak ada.

§   Pagar bunga telah berganti.

§   Pembangunan gedung-gedung mewah.

Kerangka paragraf di atas dapat dikembangkan menjadi sebuah paragraf

Bernostalgia tentang indahnya alam di batu malang, hanya akan menimbulkan kekecewaan. Dalam kurun waktu 30 hari, dinamika kehidupan anak-anak manusia telah mengubah segala-galanya. Hutan, sawah, dan ladang telah tergusur oleh berbagai bentuk bangunan yang meluncur dari kota. Ranting dan cabang pohon telah berganti dengan jeruji besi. Pagar tanaman bunga yang bermekaran dengan indahnya, telah diterjang tembok beton yang kokoh. Batu-batu gunung telah menghadirkan grdung plaza megah yang menelan biaya miliaran. Arus modernisasi dengan angkuhnya telah menelan kemesraan desa ini dari berbagau penjuru.

Pengembangan paragraf dapat dibedakan berdasarkan teknik dan isi paragraf.

1)     Berdasarkan Teknik : (1) secara alamiah ; a. Urutan ruang ,b. Urutan waktu, (2) Klimaks dan antiklimaks, (3) Umum ke Khusus

2)     Berdasarkan Isi : (1) perbandingan dan pertentangan, (2) analogi, (3) contoh-contoh, (4) sebab-akibat, (5) definisi luas, (6) klasifikasi

1)      Berdasarkan Teknik

(1)   Secara alamiah

Dalam hal ini penulis sekedar menggunakan pola yang sudah ada pada objek atau kejadian yang dibicarakan. Susunan logis ini mengenal dua macam urutan :

a)     Urutan ruang (spesial) yang membaca dari satu titik ke titik berikutnya yang berdekatan dalam sebuah ruang. Misalnya gambaran dari depan ke belakang, dari luar ke dalam, dari atas ke bawah, dari kanan ke kiri, dan sebagainya.

b)     Urutan waktu (urutan kronologis) yang menggambarkan urutan terjadinya peristiwa, perbuatan atau tindakan.

(2)  Klimaks dan Antiklimaks

Pikiran utama mula-mula diperinci dengan sebuah gagasan bawahan yang dianggap paling rendah kedudukannya. Kemudian berangsur-angsur dengan gagasan-gagasan lain hingga ke gagasan yang paling tinggi kedudukannya atau kepentingannya.

(3) Umum ke Khusus, Khusus ke Umum

Cara ini paling banyak digunakan dalam pengembangan paragraf, baik dari umum ke khusus atau sebaliknya dari khusus ke umum. Dalam bentuk umum ke khusus, pikiran utama doletakkan pada awal paragraf, kemudian diikuti dengan perincian-perincian. Sebaliknya dari khusus ke umum, dimulai dengan perincian-perincian dan diakhiri dengan kalimat utama. Karya ilmiah umumnya berbentuk deduktif artinya dari umum ke khusus.

Salah satu kedudukan bahasa Indonesia adalah sebagai bahasa nasional. Kedudukan ini dimiliki sejak dicetuskannya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Kedudukan ini dimungkinkan oleh kenyatan bahwa bahasa Melayu yang mendasari bahasa Indonesia telah menjadi Lingua Franca selama berabad-abad di seluruh tanah air kita. Hal ini ditunjang lagi oleh faktor tidak terjadinya “persaingan bahasa”, maksudnya persaingan bahasa daerah satu dengan bahasa daerah yang lain untuk mencapai kedudukannya sebagai bahasa nasional.

2)     Berdasarkan Isi

(1)   Perbandingan dan Pertentangan

Untuk menambah kejelasan sebuah paparan, kadang-kadang penulis berusaha membandingkan atau mempertentangkan. Dalam hal ini penulis menunjukkan persamaan dan perbedaan antara 2 hal tersebut.

Yang dapat dibandingkan adalah dua hal yang tingkatannya sama dan kedua hal itu mempunyai persamaan dan perbedaan.

Perhatikan paragraf berikut ini :

Ratu Elizabeth tidak begitu tertarik dengan mode, tetapi selalu berusaha tampil di muka umum seperti apa yang diharapkan rakyatnya. Kalau keluar kota paling senang mengenakan pakaian yang praktis. Ia menyenangi topi dan scraf. Lain halnya dengan Margareth Thatcher. Sejak menjadi pemimpin parta konservatif, ia melembutkan gaya berpakaian dan rambutnya. Ia membeli pakaian sekaligus dua kali setahun. Ia lebih cenderung berbelanja di tempat yang agak murah. Ia hanya memakai topi ke pernikahan, ke pemakaman dan upacara resmi pembukaan parlemen.

(2)   Analogi

Analogi biasanya digunakan untuk membandingkan sesuatu yang sudah dikenal umum dengan yang tidak atau kurang dikenal umum. Gunanya untuk menjelaskan hal yang kurang dikenal tersebut.

Perhatikan paragraf berikut ini :

Perkembangan teknologi sungguh menakjubkan. Kehebatannya menandingi kesaktian para satria dan dewa dalam cerita wayang. Kereta-kereta tanpa kuda, tanpa sapi, dan tanpa kerbau. Jakarta-Surabaya telah dapat ditempuh dalam sehari. Deretan gerbong yang panjang penuh barang dan orang, hanya ditarik dengan kekuatan air semata. Jaringan jalan kereta api telah membelah-belah pulau. Asap yang mewarnai tanah air dengan garis hitam, semakin pudar untuk hilang ke dalam ketiadaan. Dunia rasanya tidak berjarak lagi, telah dihilangkan dengan kawat. Kekuatan bukan lagi monopoli gajah dan badak, tepapi telah diganti dengan benda-benda kecil buatan manusia.

(3)  Contoh-contoh

Sebuah generalisasi yang terlalu umum sifatnya agar dapat memberikan penjelasan kepada pembaca, kadang-kadang memerlukan contoh-contoh yang konkret. Dalam hal ini sumber pengalaman sangat efektif.

Perhatikan paragraf berikut ini :

Masih berkisar tentang  pencemaran lingkungan, Gubernur Jawa Tengah, Mardiyanto, memberi contoh tentang jambu mete di Mayong Jepara yang diserang ulat kipat atau Cricula Trifenestrata. Ulat ini timbul akibat berdirinya peternakan ayam di tengah-tengah perkebunan tersebut. Menurut Gubernur, izin peternakan ayam di Mayong itu diberikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

(4)  Sebab – Akibat

Hubungan kalimat dalam sebuah paragraf dapat berbentuk sebab akibat. Dalam hal ini sebab dapat berfungsi sebagai pikiran utama, dan akibat sebagai pikiran penjelas. Dapat juga sebaliknya. Akibat sebagai pikiran utama dan untuk memahami akibat ini dikemukakan sejulah penyebab sebagai perinciannya.

Perhatikan paragraf berikut ini :

Jalan Kebon Jati akhir-akhir ini kembali macet dan semarawut. Lebih dari separuh jalan kendaraan kembali tersita oleh kegiatan perdagangan dan kaki lima. Untuk mengatasinya, pemerintah akan memasang pagar pemisah antara jalan kendaraan dengan trotoar. Pagar ini juga berfungsi sebagai batas pemasangan tenda pedagang kaki lima tempat mereka diijinkan berdagang. Pemasangan pagar ini terpaksa dilakukan mengingat pelanggaran pedagang kaki lima di lokasi itu sudah sangat keterlaluan, sehingga menimbulkan kemacetam lalu lintas.

(5)  Definisi Luas

Untuk memberikan batasan tentang sesuatu, kadang-kadang penulis terpaksa menguraikan dengan beberapa kalimat, bahkan beberapa alinea.

Perhatikan paragraf berikut ini :

Pengajaran mengarang sebagai kegiatan terpadu, biasanya ditunda sampai siswa agak mampu menggunakan bahasa lisan, seperti dalam pelajaran membaca. Pada tahap awal, latihan mengarang itu biasanya digunakan untuk memperkuat kemampuan dasar seperti : ejaan, pungtuasi, kosa kata, kalimat, dan lain-lain. Kemudian kemampuan mengarang dijadikan pelajaran tersendiri, yakni pengajaran mengarang. Jadi, mengarang adalah suatu kemampuan yang kompleks yang menggabungkan sejumlah unsur kemampuan yang berlain-lainan.

(6)  Klasifikasi

Dalam pengembangan karangan, kadang-kadang kita mengelompokkan hal-hal yang mempunyai persamaan. Pengelompokkan ini biasanya diperinci lagi lebih lanjut ke dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil.

Perhatikan paragraf berikut ini :

Dalam karang-mengarang atau tulis-menulis, dituntut beberapa kemampuan antara lain kemampuan yang berhubungan dengan kebahasaan dan kemampuan pengembangan atau penyajian. Yang termasuk kemampuan kebahasaan ialah kemampuan menerapkan ejaan, pungtuasi, kosa kata, diksi, dan kalimat. Sedangkan yang dimaksud dengan kemapuan pengembangan ialah kemampuan menata paragraf, kemampuan membedakan pokok bahasan, subpokok bahasan, dan kemampuan membagi pokok bahasan dalam urutan yang sistematik.

  1. Berdasarkan Tujuan dan Sifatnya, paragraf dibedakan menjadi lima macam.

Yaitu  paragraf deskripsi, narasi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi

(Wiyanto, 2006: 64).

(1)   Deskripsi berasal dari verba to describe, yang artinya menguraikan, memerikan, atau melukiskan. Paragraf deskripsi adalah paragraf yang bertujuan memberikan kesan/impresi kepada pembaca terhadap objek, gagasan, tempat,peristiwa, dan semacamnya yang ingin disampaikan penulis. Dengan deskripsi yang baik pembaca dapat dibuat seolah-olah melihat, mendengar, merasakan, atau terlihat dalam peristiwa yang diuraikan penulis.

Contoh :         Wanita itu tampaknya tidak jauh usianya dari dua puluh tahun.

Mungkin ia lebih tua, tapi pakaian dan lagak-lagaknya

mengurangi umurnya. Parasnya cantik. Hidung bangur dan

matanya berkilauan seperti mata seorang India. Tahi lalat di atas

bibirnya dan rambutnya yang ikal berlomba-lomba

menyempurnakan  kecantikannya itu.

(2)  Narasi (narration) secara harafiah bermakna kisah atau cerita. Paragraf narasi bertujuan mengisahkan atau menceritakan. Paragraf narasi kadang-kadang mirip dengan paragraf deskripsi. Bedanya, narasi mementingkan urutan dan biasanya ada tokoh yang diceritakan. Paragraf narasi tidak hanya terdapat dalam karya fiksi (cerpen dan novel), tetapi sering pula terdapat dalam tulisan nonfiksi.

Contoh:      S menuturkan, siang itu tanggal 26 Mei 1985 ia sedang

bersembahyang

di dalam bloknya. Tiba-tiba ia mendengar suara gaduh, Puluhan orang

berhamburan keluar lewat pintu gerbang Rutan Salemba. Laki-laki yang

belum menerima vonis itu langsung ikut kabur.

(3)  Paragraf eksposisi bertujuan memaparkan, menjelaskan, menyampaikan informasi, mengajarkan, dan menerangkan sesuatu tanpa disertai ajakan atau desakan agar pembaca menerima atau mengikutinya. Paragraf eksposisi biasanya

digunakan untuk menyajikan pengetahuan/ilmu, definisi, pengertian,langkah-

langkah suatu kegiatan, metode, cara, dan proses terjadinya sesuatu.

Contoh :       Dalam tubuh manusia terdapat aktivitas seperti pada mesin mobil.

Tubuh manusia dapat mengubah energi kimiawi yang terkandung

dalam  bahan-bahan bakarnya- yakni makanan yang ditelan menjadi

energi panas dan energi mekanis. Nasi yang Anda makan pada waktu

sarapan  akan dibakar dalam tubuh persis sebagaimana bensin dibakar

dalam  silinder mesin mobil.

(4)  Istilah argumentasi diturunkan dari verba to argue (Ing) yang artinya

membuktikan atau menyampaikan alasan. Paragraf argumentasi bertujuan

menyampaikan suatu pendapat, konsepsi, atau opini tertulis kepada pembaca.

Untuk meyakinkan pembaca bahwa yang disampaikan itu benar, penulis

menyertakan bukti, contoh, dan berbagai alasan yang sulit dibantah.

Contoh:         Penebangan hutan harus segera dihentikan. Pohon-pohon di hutan

harus dapat menyerap sisa –sisa pembakaran dari pabrik-pabrik dan

kendaraan bermotor. Jika hutan ditebang habis, maka tidak ada mesin

yang bisa menyerap sisa-sisa pembakaran. Sisa-sisa pembakaran itu

dapat meningkatkan pemanasan global. Pemanasan global itu akan

melelehkan gunung es di kutub. Akibatnya, kota-kota di tepi pantai

seperti Jakarta, Surabaya, Singapura, Bangkok, dan lain-lainnya akan

terendam air laut. Jika hutan kita terus ditebang demi kepentingan

ekonomi, maka akan terjadi bahaya yang luar biasa hebatnya. Oleh

sebab  itu, hutan harus kita selamatkan sekarang  juga.

(5)  Persuasi diturunkan dari verba to persuade yang artinya membujuk, atau menyarankan. Paragraf persuasi merupakan kelanjutan atau pengembangan paragraf argumentasi.

Persuasi mula-mula memaparkan gagasan dengan alasan, bukti, atau contoh untuk

meyakinkan pembaca. Kemudian diikuti dengan ajakan, bujukan, rayuan,

imbauan, atau saran kepada pembaca.

Beda argumentasi dengan persuasi terletak pada sasaran yang ingin dibidik oleh

paragraf tersebut. Argumentasi menitikberatkan sasaran pada logika pembaca,

sedangkan persuasi pada emosi/perasaan pembaca walaupun tidak melepaskan

logika. Dengan kata lain, yang digarap paragraf argumentasi adalah benar

salahnya gagasan/pendapat. Sementara itu, paragraf persuasi menggarap pembaca

agar mau mengikuti kehendak penulis.

Contoh:        Praktik berpidato memang luar biasa manfaatnya. Pengalaman

setiapkali praktik merupakan pengalaman batin yang sangat berharga.

semakin sering praktik, baik dalam berlatih maupun berpiato yang

sesungguhnya, pengalaman batin itu semakin banyak. Dari pengalaman

itu, pembicara dapat menemukan cara-cara berpidato yang efektif dan

memikat. Semakin banyak daya pikat ditemukan dan semakin sering

diterapkan dalam praktik, semakin meningkat pula ketrampilan

pembicara.

Tidak dapat disangkal bahwa praktik  berpidato menjadi semacam

obat kuat untuk membangun rasa percaya diri. Bila rasa percaya diri itu

sudah semakin besar, pembicara dapat tampil tenang tanpa digoda rasa

malu, takut, dan grogi. Ketenagan inilah yang menjadi modal utama untuk

meraih keberhasilan pidato. Oleh Karena itu, untuk memperoleh

keterampilan atau bahkan kemahiran berpidato, Anda harus

melaksanakan praktik berpiato.

REFERENSI

Akhadiah, Sabarti dkk. 1991. Pembinaan Kemampuan Menulis.

Jakarta: Erlangga.

—————————-.1991. Modul Bahasa Indonesia I. Jakarta:

Pendidikan dan Kebudayaan.

—————————–. 1993. Modul Bahasa Indonesia. Jakarta::

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan .

Keraf, Gorys. 1977. Komposisi. Flores: Nusa Indah.

Wiyanto, Usul. 2006. Terampil Menulis Paragraf. Jakarta: Grasindo.

Tentang satuasbak

I can't fail
Pos ini dipublikasikan di NON FISIKA. Tandai permalink.

2 Balasan ke Paragraf

  1. cons berkata:

    thanks gan

  2. harumanansia berkata:

    terimakasih bos atas informasinya,.. upload yang juga ya bos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s